Sejenak, Bernafas

Photo by Dominika Roseclay on Pexels.com

Sejenak ingin berhenti
Setelah berhari-hari menantang diri
Kreatif, kreatif, dan berkreasi

Pertama-tama, ini sangat memotivasiku
Saat kutengok bagaimana banyak yang mulai membaca tulisan-tulisanku
Kedua, akhirnya aku benar-benar mulai menyukai rutinitasku
Membuat tulisan dari apapun ide yang mungcul di kepalaku

Merasa antusias karena seakan-akan ada seseorang yang menunggu
Jika tak kutelurkan tulisan di setiap hariku

Meskipun kemudian kusadar
Aku bukan penulis besar
Bahkan masih tak layak disebut penulis pemula
Tepatnya hanya seseorang yang coba-coba

Tapi kembali lagi,
Aku antusias dengan semua ini
Aku ingin beride, menulis, dan mengkreasi

Lalu kuingat kembali,
Bahwa waktu tak selalu cerah seperti kemarin hari
Kadang mendung sebagai pertanda untuk berdiam diri
Beginilah kondisiku kini
Mendung yang kumaksud tadi bukan tentang kesedihan hati
Tapi lebih pada tiadanya kejernihan pikiran diri
Sehingga, meski kupacu kupancing semuanya namun tetap tak menemukan sari

Aku sedang tak beride saja
Jadi lain kali jika telah menemukan ‘nyawa’
Aku akan kembali untuk bersua, bercerita

Jangan Dengerin Lagu-lagu Ini Kalau Nggak Pengen Gagal Move On

Photo by freestocks.org on Pexels.com

Paham nggak sih, terkadang hidup ini tak berjalan sesuai dengan yang kita inginkan? Sudah berencana sebegitu matangnya, namun ada sayangnya, sayangnya rencana kita hanya bagian kecil dari rencana besar alam ini yang menggerakkan kita dan apapun di sekeliling kita ke arah yang ‘tak tentu’. Bahkan terkadang ke arah yang tak kita mau.

Salah satunya adalah ‘rencana’ tentang percintaan kita. Entah awalnya dari mana, siapa yang memulainya, dan bagaimana bisa. Kenyataannya sebagian dari kita pernah mengalami yang namanya putus cinta. Padahal, tak pernah ada rencana untuk melakukan hal itu bukan?

Sebagian dari kita dengan cepat langsung tanggap. Menerima keadaan dan memulai lagi perjalanan. Sebagiannya lagi diam di tempat, menunggu waktu yang tepat, atau bahkan ingin mengulang momen yang terlewat. Istilah gagal move on mungkin lebih tepat.

Bukan maksud hati untuk mengajak kalian diam di tempat, tapi karena memang sedang butuh teman untuk berlambat-lambat, berlambat-lambat melepas seseorang yang tak mungkin kembali merapat. Jadi, kususunkan lagu-lagu tentang seseorang yang gagal move on dari kekasih hatinya, seperti kalian tentunya 🙂

The Script – The Man Who Can’t Be Moved

Lagu pertama di list ini dirilis tahun 2009 lalu. Sudah hampir 11 tahun, tapi masih relevan untuk kita semua.

Coba perhatikan chorus -nya berikut ini:

‘Cause if one day you wake up and find that you’re missing me
And your heart starts to wonder where on this earth I could be
Thinkin’ maybe you’ll come back here to the place that we’d meet
And you’ll see me waiting for you on our corner of the street
So I’m not moving, I’m not moving

Juice WRLD – Lucid Dreams

I still see your shadows in my room
Can’t take back the love that I gave you
It’s to the point where I love and I hate you
And I cannot change you so I must replace you (oh)
Easier said than done
I thought you were the one
Listening to my heart instead of my head
You found another one, but
I am the better one

Kalian pasti sudah sangat hafal bukan dengan lirik di atas? Yap, lagu ini memang cukup terkenal, terutama untuk para aktivis Tiktok. Lagu ini menceritakan bahwa sang pelantun masih sangat mencintai mantannya, sedangkan sang mantan justru telah menemukan tambatan hati lainnya.

Lagu ini dipopulerkan oleh Juice WRLD atau yang bernama asli Jarad Anthony Higgins. Namun, Desember 2019 lalu sang pelantun meninggal dunia di usia yang ke-21 setelah mengalami serangan seizure. Mari doakan yang terbaik untuk mendiang.

MKTO – How Can I Forget

Entah bagaimana ceritanya, lagu ini tidak begitu populer. Berdasarkan pantauan di Youtube sebelum artikel ini dirilis baru ada 4 jutaan views sejak 2018 lalu. Padahal menurut penulis, lagu ini easy listening lho.

Let you slip through my fingers, but you’re stuck in my head
And I’ll be thinkin’ ’bout ya for so long
For so long

How can I forget you in the morning?
How can I forget you?
I was dreamin’ you were standin’ there wearin’ my t-shirt
Wishin’ that you could still be here
How can I forget?I can’t
I can’t
How can I forget?
I can’t

Scorpions – Still Loving You

Lagu terakhir di list ini ada lagu dari band hard rock kawakan asal Jerman, Scorpions. Meskipun lagu ini sudah lama dirilis, namun masih belum usang kan untuk didengarkan?

Coba deh kalian perhatikan penggalan liriknya:

Time, it needs time time,
To win back your love again
I will be there
I will be there
Love, only love
Can bring back your love someday
I will be there
I will be there

Sekian artikel ini. Jika kalian punya lagu-lagu lain yang pas untuk ditambahkan di list ini, bisa tuliskan di kolom komentar.

Harapan

Photo by Pixabay on Pexels.com

Kita mulai menua dengan hari-hari yang kita lewati semakin berat terasa. Langkah-langkah semakin melambat. Suara gahar semakin tak lantang. Mata berbinar makin sayu, cahayanya telah padam.

Aku terkadang duduk di ruanganku sambil menikmati secangkir kopi hitamku. Bermain peran layaknya aku adalah ayahku. Dengan ototku yang tak lagi padat, bahkan tulang bajaku tak lagi kuat. Hari demi hariku apa yang kuperbuat?

Aku berganti peran lagi menjadi diriku sendiri. Sebuah pohon kecil yang mulai bersemi. Belum berbuah, namun mulai berbunga. Belum berdahan besar, namun mulai menjangkaukan ranting-rantingnya. Aku pun bertanya, apakah aku telah berusaha?

Aku beringsut, menggeser pantatku dari kursi kayu itu. Menjadi sosok kebanggaanku ini sejak dulu, ialah ayahku. Napasku mulai berat. Hisapan rokokku pun mulai lemah. Kuputuskan untuk berhenti sejenak, kali saja hidupku akan segera tamat.

Saat kucoba tarik udara ke kerongkonganku perlahan-lahan, aku mulai sadar, aku sedang tidak membayang. Aku adalah aku, bukan lagi berperan sebagai ayahku. Kucicip lagi kopi hitamku, kurasai aroma pahit manis di ujung cangkirku. Terlintas di kepalaku, jalan apa yang sebenarnya dilalui ayahku?

Apakah kini aku masih menjadi bebannya? Atau mulai menjadi harapannya? Kucoba bertanya, namun bibir terkunci tanpa bahasa. Aku sebenarnya hanya ingin memastikan, aku takut kelak mengecewakan jika aku memang harapan. Tapi, bukankah aku sudah memberatkan, jika ternyata aku hanyalah beban?

Puja

Photo by Molly Champion on Pexels.com

Sadar, cukup sadar saat kontakku kau blok. Ya tapi mau bagaimana lagi? Aku yang memintanya di awal. Seandainya engkau lelah menanggapiku, blok saja, kataku kala pertama menge-chat-mu.

Aku memang benar-benar tak memiliki keberanian untuk mengutarakan secara muka dengan muka. Pikirku kau akan marah. Pikirku kau akan merasa aku aneh. Pikirku, aku bahkan akan kau larang untuk menganggumimu bahkan jika dari seberang daratan sana.

Chat yang pertama kukirimkan tak kau balas. Sepertinya hanya kau lihat. Mungkin kamu membacanya sembari berkernyit dahi. Aku paham, meskipun di sisi lain aku mengharapkan sebuah keajaiban.

Chat keduaku, kau mengabaikan juga. Aku benar-benar tak tahu lagi mau apa, benarkah harus kuungkapkan secara langsung padamu semua yang kurasa?

Chat berikutnya, kau balas. Singkat dan terlihat enggan. Meskipun aku senang ketika kau menyebut namaku, seakan-akan kau sedang tersenyum sambil berucap menatapku. Yah, namanya kasmaran, logikaku tak berjalan, semuanya hanya khayalan.

Chat keempatku, dan terakhir yang kukirimkan padamu, tak kau baca, setidaknya itu yang terlihat dari ‘tanda baca’ nya. Entah berapa lama kemudian, kontakmu tak dapat kugapai lagi. Kamu benar-benar menghapusku, setidaknya dari ‘pertemanan’ mu.

Kini sekian lama setelah hari itu berlalu, kamu tahu perasaanku? Sudah berubah. Aku benar-benar berubah. Jauh lebih tak logis lagi. Kubuat akun lainnya, yang tujuan awalnya bukan untuk menguntit dirimu, tapi akhirnya apa? Aku setiap kali selalu mengecek kabar beritamu.

Aku makin liar. Rasanya semakin banyak orang bisa menjadi perhatian. Sayangnya hanya pelampiasan. Bukan benar-benar yang memegang kendali atas cintaku, perasaanku.

Aku makin sedikit konyol. Andai saja aku tak dapat memilikimu, setidaknya kamu hadir di antara imajinasi-imajinasiku. Malam-malamku belum akan berujung, jika dirimu belum berkunjung. Imajinasi-imajinasiku itu yang menghiburku. Menghiburku dari keadaan yang tak mungkin kupaksakan. Padamu, apalagi kepada Tuhan.

Salam sayang. Jika benar-benar aku tak bisa bersama-sama denganmu, tolong doakan seseorang seperti dirimu siap hadir di hidupku.

Gemericik

Photo by Daria Shevtsova on Pexels.com

Hufffttttt… Aku lelah. Setelah berhari-hari berjuang, rasanya ingin melemparkan segera tubuhku ke kasur di kamar kosku. Tidak beruntungnya, aku masih harus berjibaku di sini. Di tempat yang awalnya kukira sebagai pengantarku meraih mimpi. Daripada berharap segera menemukan mimpiku dari jalan ini, sekarang aku lebih menganggap ini sebuah jalan buntu.

Kira-kira empat bulan lalu, ada lowongan pekerjaan yang tiba-tiba menghampiriku. Pagi itu, saat kubuka email, ada pemberitahuan dari sebuah website yang akhir-akhir ini kupantau setiap hari, website khusus untuk para job seeker. Di email itu tertulis, CV Futur*****a telah mengirimkan pesan pada akunku di website yang tadi ku sampaikan.

Segera setelah itu, dengan semangat ku buka laptopku untuk mengaksesnya. Tentulah, siapa tak senang jika baru saja lulus dua hari yang lalu, dan sebelum mengirimkan lamaran ke perusahaan A, B, dll-nya, tiba-tiba ada tawaran pekerjaan yang tak diduga-duga.

Menarik. Benar-benar menarik tawarannya. Dan sesuai dugaanku di awal, aku memang ditawari pekerjaan. Menjadi seorang admin. “Admin?” pikirku. Bukan karena menganggap ini pekerjaan yang rendah, tapi lebih kepada pertanyaan “mampukah?” Pertanyaan pada diri sendiri, kira-kira dapatkah aku berjuang di jalan ini. Tapi, melihat bagaimana tawaran gajinya, aku langsung sedikit pening. Pening karena terlalu senang tentunya. Yak, tawaran gajinya memang cukup besar untukku.

Akhirnya, hanya butuh 30 menit diriku untuk mempertanyakan bisa atau tidaknya nanti bekerja di sana. Yang utama, dengan penawaran gaji sedemikian tinggi aku bisa membantu keluargaku. Ayah ibuku yang sudah pensiun, kakakku yang sedang sulit usahanya, dan adikku yang sebentar lagi akan masuk kuliah.

Tanpa menunggu lama, tiga hari dari email pemberitahuan itu kuterima, aku sudah berdiri di depan calon kantorku. Cukup megah. Cukup pulalah untuk menampung orang-orang sebanyak ini, orang-orang yang sama-sama mengantri untuk memasuki gedung ini. Benar, kenyataannya bukan hanya aku yang pagi ini datang ke sini dengan pakaian formal, atasan kemeja putih dan bawahan panjang berbahan kair dan berwarna hitam.

Akhirnya, aku pun benar-benar diterima di perusahaan ini. Entahlah, berapa banyak yang diterima dari sekumpulan banyak orang tadi yang ikut mengantri bersamaku. Sebagian dari mereka yang keluar dari ruangan interview bermuka kusut, tebakku mereka ditolak. Lainnya lagi tertawa-tawa, mereka pasti menertawai kekonyolan mereka kala diinterview. Aku sendiri, sama sekali tak menghadapi ketakutan-ketakutanku kala membayangkan interview. Hanya mengobrol sebentar, lalu tanda tangan kontrak. Dan, sudah.


Satu, dua, tiga hari hingga sekitar dua minggu bekerja rasanya tanpa hambatan. Bayangan pekerjaan mengerikan yang semula kupikirkan tak muncul juga ternyata. Berat? Tidak juga. Bisa dikatakan ini benar-benar surga dunia. Kerjaan mudah, gaji melimpah.

Sesuatunya mulai berubah menjelang akhir bulan pertama. Entahlah, aku benar-benar tak bisa menceritakannya dengan rinci. Yang pasti, akhir-akhir ini pekerjaanku terasa berat. Semuanya seperti tak akan terselesaikan bahkan dalam 24 jam. Aku menjadi sering lembur, dan bahkan kalaupun pulang tepat waktu aku masih harus mengerjakan banyak hal hingga tiba jam tidurku.

Kala itu, berusaha menyemangati diri selalu kulakukan setiap hari. “Ini akan berakhir. Ini akan berakhir. Ini akan…” kenyataannya tidak berakhir, ini sudah menjelang bulan keempat aku bekerja. Surga yang di awal sana, bahkan kini sudah terlupakan rasanya.

Aku sesekali melamun di sela-sela lelah tubuhku. Rasanya ingin berlari di padang rumput. Lalu menghempaskan diri ini ke rumput-rumput yang hijau. Sembari menunggu gerimis turun untuk meluruhkan segala lelahku, kesalku, keluhku. Rintik hujan yang gemericik alunkan nada-nada yang menari lembut, dan tenangkan jiwaku.

List Lagu Penyemangat Di Tengah Merebaknya Wabah COVID-19

Champion
Photo by RUN 4 FFWPU on Pexels.com

Terinspirasi menulis ini karena beberapa waktu lalu ada sebuah video yang tersebar di Twitter, yang katanya merupakan warga Italia (?) saat sedang isolasi mandiri akibat wabah corona di negara itu. Di video tersebut, terdengar lagu Roar yang dipopulerkan Katty Perry sedang dinyanyikan bersama-sama oleh warga. Langsung saja saya merasa merinding dan ingin menangis (bukan karena sedih ya, tapi lebih ke bersyukur di situasi krisis seperti ini masih ada semangat sebesar itu). Meskipun… kemudian ada informasi lain yang mengatakan kalau video itu adalah editan. Lagu yang dinyanyikan warga, sebenarnya bukan lagu Roar melainkan lagu kebangsaan (?).

Nah, meskipun video itu belum bisa dipastikan kebenarannya, saya akan tetap membagikan beberapa lagu pilihan saya yang menurut saya mampu membangkitkan semangat layaknya lagu Roar milik diva asal negeri Paman Sam tersebut.

Sebelum berlanjut melihat list-list lagu yang saya sarankan, jangan lupa untuk selalu menjaga kebersihan. Misalnya dengan mencuci tangan sesering mungkin, jangan memegang bagian wajah jika belum cuci tangan, lakukan self-isolation dan social distancing, serta segera periksakan diri anda jika anda/orang yang pernah berhubungan dengan anda dalam waktu dekat mengalami gejala-gejala terinveksi corona SARS CoV 2 (COVID-19).

Nah, berikutnya… anda dapat melihat list lagu-lagu penyemangat berdasarkan pencarian saya di Youtube. (Playlist-nya akan tersedia di akhir artikel)

Roar – Katty Perry

Lagu penyemangat pertama yang ingin saya sarankan tentu saja lagu Roar milik Katty Perry. Alasannya kenapa? Tentu saja karena saya yang awalnya merasa cemas dan ketar-ketir terkait merebaknya corona di Indonesia, menjadi lebih bersemangat menjalani hari-hari tanpa kehilangan kewaspadaan, supaya bisa segera get up!

You (corona) held me down but I got up!

We Are The Champions – Queen

Saya langsung memasukkan lagu ini ke list, karena di sini bukan hanya bercerita tentang ‘aku’ tetapi ‘kita’ -lah sang pemenang. Berkaitan dengan krisis COVID-19, semua elemen masyarakat harus saling mendukung dan bersama-sama mengalahkan wabah global ini. Dengan cara apa? Dengan cara mengurangi pergi ke keramaian, menjaga jarak dengan orang-orang sekitar, serta menerapkan batuk/bersin yang beretika. Dengan melakukan gerakan tersebut bersama-sama, niscaya penyebaran virus SARS CoV 2 ini akan melambat, dan akhirnya akan berhenti. Oleh sebab itulah, kedisiplinan bersama sangat penting dilakukan.

We are the champions my friends, and we’ll keep on fighting ’till the end (corona pandemic)!

The Champion – Carrie Underwood ft Ludacris

Lagu yang dibawakan oleh Carrie, pemenang American Idol musim keempat bersama dengan rapper sekaligus aktor berbakat dari Amerika, Ludacris, ini langsung membuncahkan semangat sejak lirik kalimat pertama didendangkan. Langsung dengarkan lagunya!

I am invincible, unbreakable, unstoppable, unshakeable, They (SARS CoV 2) knock me down, I get up agan, I am the champion…!

Hall of Fame – The Script ft. will.i.am

Lagu yang satu ini tentunya sudah tidak asing di kalangan banyak pemuda saat ini. Lagu yang dirilis tahun 2012 lalu ini, kini telah mencapai hampir 430 juta views (20/03/2020).

You can beat the world, You can beat the war (against corona virus)

CHAMPION – Bishop Briggs

Menurutku, lagu ini cukup underrated! Padahal, coba dengarkan sekali saja, nyawa kalian pasti langsung terhentak. Penuh semangat, seakan-akan energi keajaiban muncul tiba-tiba dan mendorong otot-otot kalian untuk melompat! Apalagi, saat Bishop meneriakkan I’M A CHAMPION!!! Seakan-akan itu teriakan kita semua nanti ketika wabah ini berakhir sudah! Semangatlah para pemenang!!!!

Unstoppable – The Score

We can be heroes, everywhere we go! Nah, dengan lirik ini, yang teringat langsung, siapapun kita, di kondisi seperti ini, kita dapat menjadi “hero”. Layaknya peneliti yang melakukan penelitian berbagai obat maupun vaksin untuk SARS CoV 2, dokter dan tenaga medis lainnya yang dengan sigap menangami para pasien dan berani bertaruh nyawa, maupun tukang ojek yang siap sedia hampir 24 jam untuk membantu kita membeli makanan saat kita harus self-isolation dan work from home (WFH). Kita juga bisa menjadi hero dengan: menjaga kesehatan diri kita sendiri, orang-orang dekat kita, dan orang-orang berisiko dengan cara menjalankan pedoman-pedoman yang telah banyak disarankan baik oleh WHO maupun organisasi kesehatan lainnya.

Baca Puisiku tentang Social Distancing di Jarak

Champion – Fall Out Boy

Lagu ini benar-benar baru kutemukan ketika mencoba mencari lagu-lagu energizer di Youtube saat hendak menulis artikel ini. Tapi, hentakkan musiknya tidak akan mengecewakan kalian. Langsung dengarkan!

If i could live through this, I can do anything, champion, champion!

The Greatest – Sia

Yup, terakhir dari list lagu ini ada lagu dari penyanyi asal Australia dengan suara dan tampilan rambut yang khas ini. Sebenarnya ada banyak lagu-lagu penyemangat dari Sia, seperti Never Give Up, Unstoppable, maupun Titanium yang dipopulerkan bersama David Guetta. Nah, kebetulan lagu terfavorit saya dari Sia adalah The Greatest, jadilah lagu ini yang masuk dalam list ini. I got the stamina!

Sekian, list lagu yang saya buat untuk diri saya sendiri dengan tujuan memberikan energi di saat-saat krisis seperti ini. Teman-teman yang tertarik mendengarkan keseluruhan lagu, saya sediakan di sini:

Jarak

Photo by Mikey Dabro on Pexels.com

Jarak

Itulah yang kita butuhkan saat ini

Jarak

Tidak selalu berkonotasi menjauhi,

namun memberi ruang antara dua diri

Jarak

Tak mudah nyatanya untuk berjarak

Coba tengok di jalan sana, keramaian penuh sesak seperti biasa

Lihatlah sekelilingmu jua,

Berdempet himpit satu dengan yang lainnya

Jarak

Beri jarak untuk sebentar saja

Beri jarak untuk orang tercinta

Beri jarak untuk siapa saja

Jarak

Mari kita mengatur jarak

Bantulah dokter, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya

Mereka tak ingin kita jatuh sakit

Yang pada titik terberatnya, mereka harus jatuh sakit pula

Karena apa? Kalian tak mengindahkan jarak

Jarak

Ayo beri jarak

Batasi diri untuk kali ini saja

Tunggulah dengan sabar hingga para pencari dan peneliti

menemukan obat dari wabah ini

Jarak ayolah berilah jarak dengan manusia

Toh kalian punya Tuhan yang tak pernah berjarak dengan insannya

Mimpi

Kelinci Mimpi
Kelinci | Sumber: https://pixabay.com/

Tabuya terbangun lagi malam itu. Ini sudah kali ketiga tidurnya terganggu karena mimpi buruk yang menghampirinya. Empat hari yang lalu dan kemarin malam, ia juga mengalami hal yang sama.

Sesaat setelah membuka mata, Tabuya menghela napasnya beberapa kali dengan berat. Gadis remaja itu kemudian bangun dari ranjangnya dan mengambil segelas air putih yang selalu tersedia di meja kamarnya. “Lagi…” gumamnya.

Tabuya segera menengok ke arah pintu tak jauh dari tempatnya berdiri. Tepat di bagian atas pintu itu terpampang tulisan “TOILET”. Ia berjalan perlahan-lahan menuju pintu itu dan setelah memegang grendel pintunya, ia terdiam sesaat. Ia hampir saja memutarnya, namun sepertinya ada sesuatu yang barusan ia ingat. Ia kemudian menoleh ke belakang dan menatap tajam jam dinding. Ia nampak menunggu jarum panjang jam itu sampai pada titik tertentu. 54, 55, 56, 57, 58, 59, 00. Benar, tepat pukul 01.30 tanpa terlewat sedetikpun, ia segera memutar grendel dan mendorong pintu bertuliskan toilet tadi.

Di dalam sana nampak seonggok toilet duduk berwarna putih dengan merek TATO. Di sampingnya, ada sebuah ember besar berwarna hitam dengan air keruh hampir memenuhinya. Entah dimana, tapi tidak terlihat ada gayung di sana. Tapi sepertinya bukan gayung yang Tabuya cari. Tabuya langsung menggeser ember besar tadi sehingga nampaklah sebuah lubang. Nah, mungkin inilah yang ia cari.

Tabuya kemudian melongokkan kepalanya ke arah lubang itu. Gelap, tapi ada sebuah cahaya kecil di bawah sana. Cukup jauh sepertinya. Tanpa rasa ragu, Tabuya langsung memasukkan kakinya ke lubang itu. Perlahan-lahan kakinya pun menggapai anak tangga di bawahnya. Ia dengan bersusah payah berusaha membuat seluruh tubuhnya masuk ke lubang itu. Setelah itu, ia pun bergegas menapaki anak tangga berdasarkan instingnya.

Ternyata cahaya yang Tabuya lihat dari atas tadi adalah sebuah obor. Sepertinya itulah yang dituju Tabuya. Ia hampir saja langsung mengambil obor itu, namun kemudian menghentikan langkahnya. Nafasnya sedikit berat, namun ia berusaha menenangkannya. Ia melirikkan matanya ke area di sekitar seperti mencari sesuatu, padahal hanya ada gelap saja di sana. Sepertinya ia juga menajamkan pendengarannya dan setelah beberapa saat ia baru cukup percaya diri untuk mengambil obor itu. Tap. Ia langsung meraih gagang obor itu dan hanya dalam sekian detik ia langsung berputar-putar. Ia nampak mencari sesuatu. Was-was pada sesuatu.

Setelah beberapa saat, Tabuya tak menemukan apapun di kegelapan itu. Kini ia mulai bergerak menjauhi tangga dengan sedikit berlari. Ada apakah di depan sana? Apa yang dicari gadis belia ini? Entahlah, yang terlihat hanya kegelapan saja.

Beberapa ratus meter dari tangga tadi, Tabuya belum menemukan apa maupun siapa di kegelapan itu. Kesunyian juga menyelimuti suasana di sana. Baru beberapa saat kemudian, Tabuya mendengar suara berlarian. Atau berkejar-kejaran? Seketika, Tabuya pun berteriak, “Krucil…! Krucil…!” Tidak ada balasan dari teriakannya. Hingga kemudian, jauh di depannya terdengar suara anjing menyalak keras, “Guk, guk, guk!”. Tabuya pun semakin berteriak kencang sambil berlari ke arah depan. “Krucil…!”

Brakkkk.

Terdengar suara sesuatu terjatuh. Apa itu? Tidak terlihat, masih gelap. Namun yang pasti, mata Tabuya terlihat berair. Hembusan angin di kegelapan yang berpapasan dengannya membuat air matanya terjatuh. Kakinya mulai lemas, namun ia tetap berlari sekencang mungkin ia bisa. Tak berapa lama, pandangan mengerikan terlihat di depannya. Sontak ia berteriak, “Krucil…!!!!!!”

Nampak seekor kelinci abu-abu yang tubuhnya berdarah-darah berada di gigitan seekor anjing besar. Kelinci itu terlihat menangis dan hanya mampu mengeluarkan suara kecil layaknya rintihan memanggil Tabuya.

 Air mata Tabuya pun semakin deras, namun kini badannya tak lemas lagi. Ia bahkan seakan-akan memiliki puluhan kali lipat kekuatan untuk bergerak maju. Dengan kecepatan yang mungkin tak pernah ia tunjukkan, Tabuya langsung menyerang anjing besar yang dengan ganas menggigit kelinci di depannya. “Lepaskan Krucil…! Lepaskan!!!!”

Tabuya mengombang-ambingkan obor di tangannya untuk menyerang anjing besar itu. Ia berharap kelinci abu-abu itu dapat terlepas dari gigitan si anjing. Beberapa kali obornya mengenai tubuh di anjing, beberapa lainnya melesat. Namun, anjing itu nampak tak peduli dengan keinginan Tabuya. Gigitan anjing itu justru semakin mencengkeram erat, sehingga darah Krucil pun semakin mengucur deras.

“Lepaskan Krucil…! Lepaskas!!!!!” teriakan Tabuya memenuhi ruangan gelap itu.

Sayangnya, anjing itu seperti tak mau tahu. Anjing itu hanya mundur beberapa langkah, sembari mengeratkan gigitannya pada si Krucil. Ia berusaha menghindari obor panas yang dilayangkan Tabuya kepadanya.

Setelah berkali-kali menyerang, kini Tabuya mulai terlihat tersengal-sengal. Nafasnya tidak teratur, air matanya semakin membanjir. Gerakannya pun mulai melambat. Di hadapannya, kelinci Krucil itu tak lagi meringik kesakitan. Hewan kecil itu sepertinya sudah tak memiliki daya bahkan untuk meneriakkan tangisannya. Hanya tersisa tatapan penuh keputusasaan ke arah Tabuya.

Tabuya pun berusaha menguatkan dirinya. Ia menegakkan kakinya untuk menyarangkan serangan sekali lagi. Ia pun kemudian memasang kuda-kuda. Sayangnya, si anjing itu seperti tak habis energinya. Bahkan, kini si anjing besar itu mengambil ancang-ancang. Bak kilat, anjing itu kini sudah menabrakkan kepalanya ke tubuh Tabuya sehingga Tabuya terpental. Brakkkk!!! Tabuya benar-benar terpental jauh ke belakang. Mungkin lebih dari sepuluh meter dari tempat ia berdiri tadi. Beruntungnya, obor yang ia pegang tak terlepas dan padam.

Tanpa melepaskan kelinci yang kini hampir kehabisan napasnya, anjing besar itu menatap tajam ke arah Tabuya. Anjing itu berjalan perlahan-lahan ke arah Tabuya. Sepertinya hewan buas itu merencanakan serangan lagi untuk Tabuya, namun sambil berhati-hati karena di tangan Tabuya masih ada senjata.

Tabuya pun berusaha sekuat tenaga dan secepat mungkin untuk bangkit, tak beruntungnya anjing tadi dengan sangat cepat menyerangnya. Tabuya pun terpental sekali lagi. Kali ini obor Tabuya terjatuh meskipun tak begitu jauh dari raihan tangannya. Apinya pun belum padam. Hanya saja, sebelum Tabuya sempat meraihnya, kedua tangan Tabuya segera disergah dengan kaki-kaki depan yang kuat milik si anjing. Kini Tabuya tak bisa berkutik lagi. Kakinya pun sudah tak bisa ia gunakan lagi untuk menyerang. Sepertinya, kedua kakinya telah melemah. Pun terlihat beberapa ceceran darah. Mungkin saja akibat antukan dengan lantai saat terpental tadi.

Tabuya sepertinya tak memiliki harapan lagi. Ia hanya dapat menatap Krucil kini tak membuka matanya dan masih berada di cengkeraman gigi-gigi tajam si anjing. Pun si Krucil tak menunjukkan gerak apapun. Sekarang hanya ada aliran air mata si Krucil yang masih terlihat membasahi bulu abu-abu kelinci kecil itu. Yang justru membuat air mata Tabuya semakin tak terbendung lagi keluarnya. Tabuya pun berteriak sekuat tenaga, “Krucil…!!!!!!!”

Tabuya terbangun lagi malam itu. Ini sudah kali ketiga tidurnya terganggu karena mimpi buruk yang menghampirinya. Empat hari yang lalu dan kemarin malam, ia juga mengalami hal yang sama.

Gadis belia itu pun kemudian menghampiri meja riasnya. Sambil menatapi dirinya dalam cermin di depannya, air mata masih terus mengalir di pipinya, lalu perlahan-lahan jatuh membasahi baju tidurnya.

Ini sudah ketiga kalinya ia mengalami mimpi suram seperti barusan. Mimpi yang kurang lebih sama. Namun hal itu justru menumbuhkan tekad di dadanya. “Aku tak boleh membiarkan Krucil menderita. Besok akan kucoba lagi. Lagi. Lagi dan lagi, hingga aku bisa menyelamatkannya!”

Cerita

Diri
Diri | Sumber: https://pixabay.com/

Untukmu cerita yang tak pernah kuminta, namun selalu kujalani…

 

Aku sedang ingin merebahkan diri dan terlelap tanpa takut terbangun kembali bersapaan denganmu

Aku ingin melangkah maju tanpa harus takut akan kembali bersamamu

Aku sedang ingin berjuang, untuk hal lain, tanpa memikirkanmu

Aku sedang lelah, dan sejenak ingin melupakan tentangmu, sejenak melepaskanmu

Aku merasa berat, rapuh, dan tidak berdaya,

Seperti tadi pagi, saat aku menangis tapi tak pernah membuatmu pergi dariku

Kamu tau, aku tak sekuat baja yang tak tertembus oleh peluru

Aku bahkan bukan beringin, yang tegar menghadapi deburan angin

Aku pun bukan langit, yang selalu lapang menerima teriakan manusia

Aku hanya aku, pun bukan mereka yang bisa berdamai dengan cerita sepertimu

Jika esok aku terlelap, dan berkesempatan untuk bangun lagi

Aku ingin bangkit, jika mungkin terjadi

Namun jika engkau masih ingin bersamaku,

Beritau aku, beritau kapan waktu terbaik untuk melepasmu

Waktuku bersamamu sudah terlalu lama, aku lelah, dan ingin menyerah

Atau… beritau aku, aku bisa hidup damai bersamamu, ceritaku

 

 

Jejak Nirmala

Hutan

Hutan | sumber: http://pixabay.com/

Seorang anak berusia 8 tahunan tiba-tiba menghilang dari rumahnya. Padahal pada pagi harinya, ia masih sarapan bersama papa dan mamanya. Ia bahkan masih sempat mencium pipi papanya ketika sang papa hendak berangkat bekerja. Di bisiknya ia berkata,

“Papa jangan lupa belikan aku boneka!” Ia tersenyum kecil di samping telinga papanya sambil melirik mama yang duduk tak jauh darinya. Ia tahu mama akan melarangnya meminta diberikan boneka lagi, namun papa pasti akan menurutinya. Papa hanya tersenyum kecil lalu membalas kecupan si kecil itu.

Mungkin hanya sekitar 3 jam sejak papa berangkat bekerja menggunakan sepeda motornya, mama terlihat panik saat menyadari Nirmala tak ada di kamarnya. Nirmala memang beberapa kali meninggalkan kamarnya dan bermain di halaman rumah tanpa meminta ijin pada mamanya. Hal tersebut selalu membuat mamanya cemas. Entah apa penyebabnya, mama selalu tak mengijinkan Nirmala untuk sekadar bermain di halaman rumah tanpa ditemani olehnya.

“Nirmala?” Panggil mama dari depan pintu kamarnya. Sesaat setelah tak ada sahutan dari dalam kamar, mama langsung masuk ke kamar yang hanya ditutupi tirai dari untaian manik dan kerang. Mama hanya melihat beberapa boneka yang masih tertata rapi di dipan kamar tersebut. Jendela masih tertutup rapat. Mama segera merebahkan badannya dan melihat kolong tempat tidur. Pun tidak ada apa-apa.

Kepanikan mama semakin menjadi. Jantungnya berdegup kencang saat ia mencoba menyusuri setiap kamar dan seluruh lorong-lorong di rumah itu.

“Nirmala ada dimana?” Mama cukup berteriak saat itu, “sayang, ini mama. Kamu dimana? Jangan main sembunyi-sembunyi. Mama tidak suka!” Wajah mama terlihat memerah begitu cepat. Matanya berkaca-kaca. Ia segera berlari ke halaman depan. Matanya ia paksakan untuk menatap sejauh dan sejeli mungkin. Sayangnya, hanya ada jalan kecil di sana, jalan yang selalu dilalui suaminya setiap pergi dan pulang kerja. Di sekitar jalan itu pun hanya ada pepohonan yang tumbuh dengan lebatnya.

“Nirmala?! Sayang, kamu dimana?!” Kali ini air mata mama terlihat mulai menetes. Belum begitu deras, namun terlihat sudah membuat aliran di pipi tirusnya.

Mama segera pergi ke samping rumah. Sebenarnya bukan pilihan untuk mencari Nirmala di sana, di samping dan belakang rumah tersebut merupakan hutan. Benar saja, mama hanya menjumpai pepohonan rimbun di sebelah sana. Degup jantung mama semakin terdengar di telinganya sendiri, namun justru itu yang mempercepat langkahnya untuk menyusuri teras samping dan belakang rumah. 360° rumah itu telah dikelilinginya. Sayangnya, ia masih belum menemukan Nirmala.

Kini tangis mama mulai pecah. Isak tangisnya mulai terdengar jika saja ada orang lewat di sekitar rumah itu. Sayang, rumah itu jauh dari rumah warga lainnya. Sehingga, sekeras apapun tangisan itu tak akan ada yang mendenganya.

Mama berlari ke dalam rumah. Ia langsung mencari telefon dan kemudian menekan beberapa angka. Mungkin ia menghubungi papa, suaminya. Ia terlihat menangis dan semakin kesal ketika beberapa kali mencoba namun tidak ada balasan untuk panggilannya. Entah papa atau siapa yang ia hubungi, namun sekitar delapan kali ia mencoba menyambungkan tetap tak bisa. Tangisnya menjadi-menjadi. Di sela-sela derai air matanya, ia masih menyebut nama gadis kecil itu,

“Nirmala… Sayang, kamu dimana?”

Kini mama membuka buku kontak telefon. Di situ ia terlihat menemukan nomor lain yang mungkin bisa ia hubungi. Segera tak berselang lama, ia langsung menekan beberapa nomor sesuai yang tertulis pada buku itu.

Mama sekarang terlihat duduk di kursi di dekat meja telefon itu. Isaknya belum hilang. Baju dan roknya mulai terbahasi air matanya sendiri. Kemudian tak berselang lama,

“Selamat siang dengan kepolisian, ada yang bisa kami bantu?” suara itu keluar dari telefon. Mama sepertinya mencoba menghubungi polisi setelah gagal menghubungi papa.

Mungkin sekitar 8 detik berlalu, suara itu terdengar lagi,

“Selamat siang dengan kepolisian, ada yang bisa kami bantu?” Ada apa dengan mama, ia justru tak segera membalas sapaan itu. Air matanya masih berlinang. Ia hanya duduk sambil tetap memegang telefon di dekat telinganya.

“Anak saya hilang” itu yang terucap dari mama, “anak saya hilang!!!! Cepat bantu saya! Saya butuh bantuan! Anak saya hilang!!!” Mama justru semakin mengeraskan tangisannya. Kini sepertinya sesak di dadanya pecah keluar bersama air mata yang begitu deras.

“Baik, ibu. Sejak kapan anak ibu hilang?” Suara dari telefon itu terlihat agak terkejut juga, meskipun tetap dibuat untuk tidak seperti itu.

“Baru saja. Ia tiba-tiba menghilang dari rumah. Saya tidak tahu dimana. Cepat kesini bantu saya mencari anak saya!!! Cepat bantu saya!” Mama terlihat menangis. Mungkin lebih tepatnya meraung.

“Baik, ibu. Mohon menenangkan diri terlebih dahulu.” Suara di telefon terdengar seperti itu, “apakah bisa dijelaskan dimana alamat rumah ibu? Kami akan segera kesana.” Lanjut suara di telefon itu.

Mama hanya duduk termenung. Air matanya mulai pelan mengalir. Isakannya tidak terdengar lagi. Akan tetapi, ia justru tak menjawab pertanyaan itu. Entah di pikirannya kini mungkin hanya Nirmala. Atau apa yang lainnya.

“Ibu? Apakah bisa diberitahukan alamat rumah ibu? Kami akan segera kesana membantu mencari anak ibu.” Suara dari telefon, “Bu? Halo…” Mama segera menutup panggilan telefon itu. Mama hanya duduk dengan pandangan nanar ke arah pintu depan. Tak berselang lama, ada panggilan masuk. Seketika mama langsung menoleh, matanya terbelalak. Entah kenapa. Namun ia justru menekan tombol reject, kemudian pergi ke halaman rumah.

“Nirmala…!!!” Mama berteriak sekuat tenaga, “dimana kamu sayang? Kamu dimana?!!” Bak ada tenaga berlebih dalam tubuhnya, mama berlarian di sekitar rumah sambil meneriakkan nama Nirmala. Entah sampai berapa kali ia mengelilingi rumah hingga ia kemudian jatuh tersungkur.

“Nirmala…!!” Tangisnya semakin tak terbendung saat ia terseok-seok mencoba bangun dari jatuhnya. Badan dan pipinya kini terkotori tanah tempat ia jatuh tadi.

Tiba-tiba suara sepeda motor terdengar semakin mendekat ke arah rumah. Mama terlihat terkejut, ia segera berusaha bangun. Ia hampir berteriak saat melihat suaminya datang dengan wajah penuh kecemasan.

“Nirmala hilang…!!!” Mama berteriak sambil menangis di hadapan suaminya. Suaminya langsung turun dari motor dan memeluknya.

“Bagaimana bisa?” Papa mengeratkan pelukannya pada mama. Wajah papa terlihat cukup cemas, namun yang pasti mulai memerah. Ia bergegas masuk ke dalam rumah. Mencoba menyusuri lorong rumah dan kamar-kamar. Sama seperti mama, ia tak melihat Nirmala di setiap sudut ruangan rumah itu. Mama yang berjalan pelan di belakangnya hanya bisa terisak-isak sambil memegangi satu tangannya yang sepertinya terluka. Tiba-tiba keduanya dikejutkan dengan dering telefon. Papa menatap wajah mama dengan penuh tanya, lalu menghampiri meja telefon itu. Ia sepertinya semakin terkejut saat melihat nomor di layar kecil telefon rumah itu. Ia segera menarik mama keluar. Kemudian memacu sepeda motor dengan begitu kencangnya.


Sekitar pukul 14.21 siang, sebuah mobil berisi beberapa polisi tiba di sebuah halaman rumah. Meski terlihat memaksakan jalan kecil yang dilaluinya, namun sepertinya mobil itu terlihat baik-baik saja. Polisi-polisi itu segera turun dari mobil tersebut dan kemudian salah satunya mengetuk pintu rumah. Mungkin ada sekitar 5 kali, namun tidak ada respons dari tuan rumah. Satu lainnya terlihat mengintip dari cela tirai jendela. Terlihat tidak ada siapa-siapa di dalam rumah itu.

“Coba lihat ini!” Seorang polisi mengatakan pada rekan-rekannya. Ia menunjukkan jejak-jejak kaki yang sepertinya mengitari rumah tersebut.

Dua dari polisi tersebut kemudian mencoba mengitari rumah itu. Benar kecurigaan mereka. Ada orang yang berkali-kali mengelilingi rumah itu. Jelas terlihat terburu-buru jika dilihat dari jejak kaki itu.


Sekitar pukul 16.10 beberapa mobil polisi tiba di rumah itu. Beberapa orang dari mereka mencoba masuk ke dalam rumah dan mengecek kondisi isi rumah. Beberapa lainnya menyusuri daerah di sekitar rumah itu. Mereka juga menerobos hutan di belakang dan di samping rumah itu.

Sekitar 503 meteran dari rumah itu. Polisi menemukan sebuah boneka beruang. Masih utuh dan dalam kondisi baik-baik saja. Beberapa puluh meter di depannya ada boneka lainnya. Hingga setelah hampir satu kilo meteran, terkumpul 8 boneka. Siapa yang membawanya? Entahlah. Yang pasti setelah polisi masuk lebih dalam lagi ke hutan itu mereka tak menemukan boneka ataupun benda mencurigakan lainnya lagi. Kemudian mereka memutuskan untuk menghentikan penjelajahan hutan tersebut setelah matahari hampir terbenam.


Beberapa minggu kemudian, seorang perempuan terlihat duduk di dalam kantor polisi. Matanya sembab, ia terlihat baru saja menangis berhari-hari. Badannya terlihat kotor ditambah rambut yang teracak-acak. Salah satu lengannya terlihat dipeganginya. Akan tetapi, entah apa yang terjadi hingga ia terlihat lusuh sedemikian itu.

“Namanya siapa?” Tanya polisi pada perempuan itu. Polisi itu terlihat mengetikkan sesuatu di komputer di hadapannya.

“Nirmala” jawab perempuan itu pelan.

“Benar namanya Nirmala?” tanya polisi itu terlihat tidak yakin dengan jawaban perempuan itu. Salah satu alis mata polisi itu terangkat sedikit.

“Iya” jawab singkat perempuan itu.

“Anda yang memberikan nama itu?”

“Namanya Nirmala” tatapan mata perempuan itu terlihat tajam pada polisi di depannya. Seketika, ia langsung berteriak,

“Dimana Nirmala?! Dimana?!!” Ia hampir saja memberantaki seisi meja di depannya. Untung saja beberapa polisi segera menahannya.

“Nirmala!!! Nirmala!!!” Perempuan itu justru memberontak dengan sekuat tenaga. Badannya ia bantingkan ke lantai sehingga polisi-polisi yang memeganginya ikut terpontang-panting pula.

Tiba-tiba saat kekacauan itu terjadi, seorang perempuan yang lebih muda dari perempuan sebelumnya masuk ke dalam ruangan. Secara spontan ia segera berusaha meraih muka perempuan yang sedang menggeliat itu untuk memukul wajahnya.

“Kembalikan anakku! Kembalikan! Kembalikan anakku! Kembalikan! Kembalikan…!!!” Begitu teriaknya.