Media Sosial Untuk Pencegahan Bunuh Diri

rope-1450187_1920.jpg
Depresi | sumber: http://www.pixabay.com

Baru-baru ini, heboh kejadian bunuh diri yang dilakukan oleh seorang pria  di daerah Jagakarsa, Jakarta Selatan. Menggunakan fitur Live Video di Facebook pelaku menanyangkan aksinya sehingga banyak orang yang menyaksikan rekaman bunuh diri tersebut. Sebagian orang menganggap pelaku hanya mencari sensasi, namun tidak sedikit pula yang prihatin dengan kejadian tersebut.  Bagaimana kejadian di depan umum itu bisa terjadi dan tidak berhasil dicegah?

Bunuh diri

Merupakan tindakan atau upaya untuk mengakhiri hidup. Bunuh diri dilakukan dengan berbagai alasan, misalnya depresi karena tekanan hidup, kepercayaan tertentu, atau konsekuensi karena telah melakukan hal yang memalukan seperti yang dilakukan para samurai di Jepang (harakiri/ seppuku).

Pada kejadian bunuh diri Jumat (17/3/2017) lalu, pelaku ditengarai melakukan tindakan nekat tersebut karena ditinggalkan istrinya. Sebelum melakukan bunuh diri, pelaku yang sebelumnya berprofesi sebagai driver tersebut menceritakan mengenai masalah rumah tangganya. Dari situlah diketahui bahwa kemungkinan ia melakukan tindakan tersebut karena tidak sanggup menghadapi tekanan hidup utamanya permasalahan rumah tangga.

Kejadian serupa pernah terjadi di belahan dunia lain. Seperti yang diberitakan Liputan6.com, seorang gadis berusia 14 tahun di Miami menyiarkan secara langsung usaha bunuh dirinya. Sebelumnya seorang remaja yang mengaku mengalami kekerasan seksual juga memutuskan bunuh diri setelah menyampaikan salam perpisahan di Facebook melalui fitur Live Video. Ada pula seorang pria di Turki yang menembak dirinya sendiri saat live di Facebook dan masih ada beberapa kasus bunuh diri lainnya yang disiarkan secara langsung di media sosial terbesar tersebut.

 

Facebook-Live-Video.jpg

Facebook Live Video | sumber: http://merahbirunews.com

Facebook Live Video

Fitur ini merupakan terobosan Facebook dalam menyediakan layanan untuk para penggunanya. Fitur yang mirip dengan Periscope ini diluncurkan pada tahun 2015 lalu. Fitur ini awalnya hanya tersedia untuk kalangan public figure saja. Namun, kemudian tersedia secara umum untuk semua pengguna. Fitur ini dapat dimanfaatkan pengguna untuk menyiarkan secara langsung kegiatannya di samping membagikan status mainstream dengan media teks, foto, maupun video yang tidak real-time.  

Sayangnya, fitur yang sebenarnya merupakan alternatif menarik tersebut tidak selalu dimanfaatkan dengan sebaik mungkin. Bahkan bisa jadi disalahgunakan, salah satunya untuk menyiarkan tindakan nekat di luar nalar.

Bagaimana mencegah terulangnya bunuh diri melalui media sosial?

Dengan kemajuan teknologi saat ini, tindakan bunuh diri dapat diidentifikasi melalui postingan-postingan di media sosial. Berikut ini beberapa hal yang dapat dilakukan apabila ada tanda-tanda upaya bunuh diri:

  • Jika seseorang memposting konten yang berpotensi bunuh diri secara online, segera ambil tindakan. Anda dapat segera menghampiri/ membujuk pelaku untuk tidak melakukan tindakan nekat tersebut. Anda juga dapat melaporkan pada orang-orang dekat pelaku (anda dapat melihat siapa saja teman pelaku di media sosial) atau melapor ke pihak yang berwajib.
  • Mengawasi topik yang sedang tren di Twitter atau Facebook yang mungkin terkait dengan upaya bunuh diri. Beberapa orang bisa saja mengalami pikiran untuk bunuh diri sebagai akibat dari informasi di media sosial. Gunakan hashtag yang sama atau kata kunci yang muncul di trending topics sehingga postingan Anda akan dilihat oleh orang-orang yang mengikuti topik tersebut. Gunakan untuk menyebarkan hal-hal positif untuk mengubah pikiran orang-orang yang berniat bunuh diri.
  • Jangan repost cerita atau link tentang usaha bunuh diri atau kematian. Tindakan bunuh diri karena meniru bisa saja terjadi. Selain itu, hal tersebut juga mendorong media massa untuk terus memposting cerita tersebut. Sebaliknya, berikan informasi yang positif untuk memunculkan harapan.
  • Jangan percaya pada gagasan ‘seseorang yang berbicara tentang bunuh diri tidak akan melakukannya,’ atau bahkan lebih jauh lagi meminta seseorang untuk bunuh diri, hal tersebut akan menanamkan ide di kepala mereka yang sebenarnya membutuhkan bantuan.
  • Waspada hoax bunuh diri yang dapat menyebar dengan cepat secara online. Jangan membagikan informasi yang belum dikonfirmasi oleh sumber terpercaya, dan mencegah orang lain melakukan hal yang sama.
  • Bekerja dengan orang berpengaruh di komunitas online yang dapat membantu untuk memadamkan rumor dan menyebarkan informasi yang akurat untuk melawan hoax bunuh diri.

Selain itu, Facebook sendiri sebenarnya sudah menyediakan tool untuk mencegah bunh diri. Tool tersebut berupa artificial inteligence (AI) yang dapat mengetahui tanda-tanda kecenderungan untuk buh diri melalui postingan pengguna. Pengguna juga dapat melaporkan (me-report) upaya bunuh diri atau mengirimkan pesan untuk mencegah pelaku.

Responsif merupakan kunci dalam mencegah kasus bunuh diri di media sosial terulang lagi. Upaya responsif terhadap upaya bunuh diri nyatanya telah berhasil meggagalkan beberapa upaya bunuh diri salah satunya yang dialami model asal Hong Kong. Upaya bunuh dirinya secara live berhasil digagalkan oleh polisi, petugas pertahanan sipil, dan sejumlah rekannya yang bergegas menuju tempat kejadian. Selain itu, upaya seorang perempuan melakukan bunuh diri di depan 18.000 orang berhasil digagalkan. Puluhan telepon menyampaikan aduan ke pihak berwajib. Dengan bantuan pemirsa, polisi dan tenaga medis akhirnya pelaku berhasil ditemukan, lalu membawanya ke rumah sakit untuk ditangani.

Dengan artikel ini, saya mengajak pembaca untuk lebih responsif terhadap tanda-tanda upaya bunuh diri. Baik tanda-tanda yang dapat dilihat di media sosial maupun saat tatap muka secara langsung. Sediakan diri kita untuk menjadi tempat berbagi keluh kesah kehidupan, dengarkan, dan tanamkan harapan-harapan serta hal-hal yang positif. Kepedulian kita menyelamatkan kehidupan saudara kita dan memberikannya kesempatan serta harapan.

#StopSuicide

 

Referensi artikel ini:

  1. Seppuku
  2. Gadis 14 tahun menyiarkan secara langsung upaya bunuh dirinya
  3. Fitur live video Facebook
  4. Upaya bunuh diri di Facebook yang berhasil digagalkan
  5. Social Media Guidelines for Mental Health Promotion and Suicide Prevention
  6. Facebook punya tool untuk mencegah bunuh diri

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: