Pendidikan Tinggi, (bukan lagi) Tempat Mencetak Pengangguran Terpelajar

man-937665_1920
Pengangguran | sumber: http://www.pixabay.com

Coba sesekali renungkan bagaimana masa depan anda nanti? Saat ini anda masih duduk di kelas, tapi bagaimana satu dua tiga tahun lagi? Apakah di masa depan anda akan berdiri di hadapan orang-orang seperti anda saat ini, menjadi dosen? Apakah anda akan menjadi orang berpengaruh dan berjabatan tinggi di suatu organisasi atau industri tertentu? Atau anda akan menjadi … apa pun yang kalian rencanakan saat anda memutuskan belajar di bangku perkuliahan?

Berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada bulan November tahun 2016 yang lalu, tingkat pengangguran terbuka (TPS) di Indonesia sebesar 5,61 persen. Dari total 125,44 juta angkatan kerja ada sekitar 7,03 juta yang menganggur. Tingkat pengangguran turun 530 ribu angka dibandingkan Agustus 2015. Data yang dirilis BPS tersebut juga menunjukkan bahwa TPS di daerah perkotaan sebesar 6,60 persen dan di daerah pedesaan sebesar 4,51 persen.

Meskipun data pengangguran mengalami penurunan, namun sepertinya hal tersebut tidak menghilangkan ketakutan menganggur bagi para mahasiswa. Dilihat dari tingkat pendidikan, mahasiswa jelas lebih unggul daripada angkatan kerja lulusan SD, SMP, atau SMA/SMK saja. Namun realitanya, apakah pekerjaan yang tersedia di lapangan selalu mensyaratkan jenjang pendidikan tinggi? tentunya tidak. Dari data yang dikeluarkan BPS, ada sekitar 4,87 persen lulusan universitas yang menganggur dan sebanyak 6,04 persen lulusan Diploma I/II/III yang menganggur. Cukup banyak bukan, melihat hanya segelintir orang di Indonesia yang menempuh pendidikan tinggi.

life-2087118_1920
Kemiskinan | sumber: http://www.pixabay.com

Bukan hanya sekadar tidak bekerja, pengangguran berkaitan dengan kualitas hidup seseorang, kemiskinan, dan dampak negatif lain yang seperti rantai tak terputus. Lalu bagaimana cara meminimalisasi untuk tidak terserap di lapangan kerja yang sudah ada? Artikel ini akan membahas beberapa cara yang dapat anda lakukan. Berikut ini beberapa saran yang dapat saya berikan:

freelancer-763730_1920
Create your own bussines | sumber: http://www.pixabay.com

Buat sendiri lapangan kerja

Beberapa dari anda mungkin akan mengatakan “konyol, saya ini mencari pekerjaan bukan berniat menciptakan lapangan pekerjaan”. Tidak salah, tapi solusi terbaik selalu ada di tangan kalian sendiri. Misalnya saja, anda lapar di tengah malam ketika penjual makanan keliling sudah tidak ada di sekitar kos kalian, apa yang bisa anda lakukan? Memasak. Ya, kondisi tersebut bisa menggambarkan keadaan dan peluang pekerjaan di negara kita. Saat kita merasa perlu (dalam hal ini adalah makan atau pekerjaan) lapangan atau lingkungan belum tentu menyediakan dukungannya (penjual makanan tidak ada, lapangan pekerjaan yang terbatas). Maka dari itu, dengan sumber daya dan potensi yang ada anda mau tidak mau harus membuka peluang anda sendiri.

Berani berkreasi dan berinovasi adalah kuncinya. Hal ini tentunya sulit bagi anda yang tidak memiliki jiwa wirausaha. Mengais ide dari kepala tidak mudah, layaknya mencari jarum di tumpukan jerami. Belum lagi bagaimana respon pasar terhadap layanan usaha anda, persaingan usaha yang serupa, regulasi dsb. Tapi, nyatanya ada orang-orang yang sukses dengan membuka usaha bukan? Tidak semua perusahaan dilahirkan dari badan usaha negara saja, bahkan perusahaan swasta yang dimulai dari bisnis kecil jauh lebih banyak jumlahnya.

mathematics-1622448_1920
College life | sumber: http://www.pixabay.com

Kuliah yang 100 persen

Jika anda merasa menciptakan lapangan usaha jauh lebih sulit dari mencarinya, cobalah saran yang satu ini. Maksudnya kuliah yang 100 persen apa? Maksudnya adalah jangan malas kuliah, lakukan yang harusnya anda lakukan, yaitu belajar. Belajar memang tidak mudah, apalagi suasana yang terbangun tidak menyenangkan. Tapi, coba ingat alasan anda sampai di tempat ini. Anda punya mimpi, anda memilih jalan ini untuk menggapainya. Jalan saja terus, jangan terlalu pelan atau malah jalan seenaknya sendiri.

Tidak hanya berjalan, anda bahkan harus berlari karena pasti ada orang yang memiliki mimpi yang sama dengan anda. Bayangkan saja, di jurusan anda ada sekian mahasiswa, jurusan tersebut juga dibuka di perguruan tinggi lainnya, di era globalisasi saat ini perlu anda pertimbangkan juga kemungkinan bersaing dengan mahasiswa-mahasiswa dari luar negeri. Maka dari itu, belajar yang serius adalah kunci anda mampu bersaing dengan mereka.

boat-606187_1920
Team work | sumber: http://www.pixabay.com

Buka peluang dari kegiatan ekstra mahasiswa

Tidak hanya perkuliahan saja yang mampu mengantarkan anda ke meja kesuksesan. Anda dapat memulainya dengan mengikuti komunitas, organisasi atau kegiatan di luar bangku pelajaran. Dengan banyaknya pilihan kegiatan, anda bisa mengikuti satu atau beberapa yang anda minati. Kuncinya, anda harus ‘serius’ di kegiatan tersebut. Jangan hanya sekadar membuang penat karena tugas dan materi kuliah saja. Lakukan apa yang bisa anda lakukan dan belajar sebanyak-banyaknya dari kegiatan yang anda ikuti.

Organisasi atau komunitas yang anda ikuti bukan hanya menjadi tempat menyenangkan untuk menyalurkan hobi. Anda bisa belajar bagaimana bekerja dalam sebuah tim, membagi waktu dengan kegiatan lain, dan tentunya meningkatkan jejaring di kehidupan anda. Plus anda bisa memulai berjalan menuju karier anda di masa depan. Misalnya anda mahasiswa di jurusan psikologi, anda bergabung dengan komunitas olahraga. Anda bisa menggabungkan teori-teori psikologi di kelas dengan olahraga. Jika anda benar-benar menekuninya, anda bisa saja menjadi psikolog yang ahli dalam bidang olahraga. Anda bisa ditarik ke klub olahraga untuk menjadi motivator dan perancang latihan yang efektif.


Itu tadi beberapa saran dari penulis untuk pembaca yang masih belum yakin dengan kemampuan dan peluangnya di masa depan. Ingat, perguruan tinggi tidak seharusnya menjadi lahan menanam pengangguran. Kita yang jauh lebih beruntung dalam hal pendidikan harus memiliki wawasan yang luas. Bahkan, kontribusi kita dinantikan untuk membantu teman-teman yang tidak seberuntung kita mengenyanm bangku perkuliahan.

Sumber referensi artikel ini:

Berita Resmi Statistik No. 103/11/Th. XIX, 07 November 2016 oleh Badan Pusat Statistik (Untuk mengunduh brosur lengkapnya klik di sini, gunakan email anda untuk registrasi/ login)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: